Tak ada lagi bisikan sejarah dari masjid tua atau benteng kuno pagi ini.
Madrid menyambut kami dengan wajahnya yang berbeda: megah, modern, dan metropolitan.

Setelah sarapan di hotel, kami memulai eksplorasi ibukota Spanyol dari titik-titik kebanggaannya.
Pertama adalah Plaza de España, sebuah alun-alun luas di jantung kota, tempat monumen Miguel de Cervantes berdiri megah, diapit oleh patung Don Quixote dan Sancho Panza. Di antara keramaian turis, kami menyadari bahwa meski semangat perjalanan ini bernapas sejarah Islam, mengenali budaya Spanyol masa kini pun bagian dari pemahaman yang utuh.

Tak jauh dari situ, kami singgah untuk berfoto di depan Royal Palace—istana resmi keluarga kerajaan Spanyol. Pilar-pilar tinggi dan balkon megahnya berbicara tentang kemegahan monarki yang masih bertahan dalam era demokrasi.

Lalu kami menyusuri Gran Vía, jalan utama kota Madrid yang dipenuhi toko-toko ternama, gedung bergaya Art Deco, dan café yang menggoda setiap kaki untuk berhenti sejenak.
Madrid adalah kota yang hidup—dan hidup sepenuhnya.

Setelah makan siang, saatnya yang paling ditunggu-tunggu: shopping time!
Kami menuju Las Rozas Village, factory outlet ternama di pinggiran Madrid.
Dengan deretan butik mewah yang menawarkan diskon menarik, mata dan dompet terlibat diskusi hangat sepanjang sore. Ada yang membeli tas impian, ada yang sekadar membeli oleh-oleh, tapi semuanya pulang dengan senyum.

Tak lengkap rasanya ke Madrid tanpa menyapa dua ikon lainnya:
Kami sempat berfoto di depan Bernabéu Stadium, markas kebanggaan Real Madrid—klub legendaris yang punya penggemar hingga pelosok dunia.
Kemudian, kami melewati Las Ventas Bullring, arena adu banteng yang kontroversial namun tetap menjadi simbol kuat budaya Spanyol.

Malam mulai turun, dan makan malam kami bersama terasa hangat.
Tidak ada bangunan bersejarah atau panorama senja hari ini, tapi kami tahu—perjalanan ini telah menyentuh ruang batin yang dalam. Kami kembali ke hotel, berkemas, dan bersiap untuk esok hari.

“Andalusia mungkin telah kami tinggalkan secara geografis. Tapi sejarahnya, keindahannya, dan cahayanya akan terus hidup di hati kami, bahkan saat kami kembali ke rumah.”